Tahun 2000.
Waktu itu radio masih sering lebih ramai daripada televisi. Malam-malam di desa diisi suara jangkrik, sandiwara radio, dan obrolan tetangga di depan rumah. Anak-anak bermain sampai magrib tanpa ada yang memanggil lewat telepon. Tidak ada suara notifikasi, tidak ada cahaya layar saat makan malam.
Hidup terasa sederhana.
Di desa kecil tempat Nayaka tinggal, pagi selalu datang bersama embun sawah dan suara ayam. Jalanan masih sepi. Kadang hanya ada sepeda ontel lewat atau motor tua yang suaranya terdengar lebih dulu sebelum terlihat bentuknya.
Nayaka tumbuh di rumah kecil bercat putih yang mulai kusam dimakan waktu.
Ayahnya bekerja sebagai sopir ambulans di puskesmas kecamatan. Berangkat pagi, pulang menjelang sore dengan seragam hijau tua yang sering berbau obat rumah sakit dan asap jalanan.
Namun pekerjaan itu saja tidak cukup.
Karena itu, setiap pukul sepuluh malam, ayah Nayaka kembali berangkat untuk menjaga gudang mebel dekat rumah sampai pagi.
Hidup ayah Nayaka nyaris hanya berisi bekerja dan pulang.
Tidurnya sedikit.
Bicaranya juga sedikit.
Tapi hampir tidak pernah mengeluh.
Sementara ibunya jauh lebih cerewet dan galak, terutama kalau Nayaka mulai susah disuruh mandi atau terlalu lama bermain sore.
“Nayaka! Nek dipanggil ki yo nyaut.”
“Iyooo Buk…”
Jawaban Nayaka selalu panjang sambil setengah malas.
Meski terdengar galak, ibunya sebenarnya sangat perhatian. Setiap malam selalu menemani Nayaka belajar mengeja huruf dan menghitung angka kecil di buku tulis tipis bergambar kartun.
Ayahnya biasanya ikut duduk menemani sebelum berangkat kerja malam.
Kadang kalau Nayaka salah membaca, ayahnya hanya membetulkan pelan.
“Dudu ‘ba’… iki ‘da’.”
Nayaka mengangguk lalu mencoba lagi dengan wajah serius.
Selain suka mendengarkan radio kecil milik ayahnya sebelum tidur, Nayaka juga sangat suka membaca majalah Bobo.
Setiap awal bulan, Nayaka selalu menunggu ibunya pergi ke pasar kecamatan. Bukan karena ingin dibelikan mainan, tetapi karena berharap ibunya pulang membawa majalah Bobo baru.
Lucunya, ibunya juga punya majalah favorit sendiri.
Majalah Saji.
Biasanya kalau ibunya membeli Saji, Nayaka pasti ikut merengek minta dibelikan Bobo.
“Buk… nek tuku majalah, Nayaka melu yo.”
“Lha kowe iso maca kabeh?”
“Isooo…”
Padahal seringnya Nayaka hanya melihat gambar dan membaca bagian cerita pendeknya pelan-pelan sambil mengeja.
Kalau ibunya sedang mencoba resep dari majalah Saji, Nayaka biasanya tengkurap di lantai ruang tengah sambil membuka Bobo miliknya.
Kadang mereka diam sibuk dengan majalah masing-masing.
Ibunya membaca resep masakan.
Nayaka membaca cerita Oki dan Nirmala sambil tertawa kecil sendiri.
Suasana sederhana seperti itu entah kenapa terasa hangat sekali.
Kadang ayahnya baru selesai mandi sepulang dari puskesmas lalu duduk sebentar di ruang tengah sebelum berangkat lagi menjaga gudang mebel.
Matanya sering terlihat lelah.
Namun setiap melihat Nayaka, wajahnya selalu sedikit lebih tenang.
H-1 sebelum masuk TK, Nayaka justru lebih sibuk bermain bersama teman-temannya di lapangan dekat sawah.
Ia berlari ke sana kemari sambil tertawa keras. Sandalnya penuh lumpur. Bajunya kotor debu. Rambutnya berantakan terkena angin sore.
“Nayakaaa! Mulihhh!”
Suara ibunya terdengar dari kejauhan.
“Iyooo!”
Tapi Nayaka malah kembali ikut mengejar layangan putus bersama anak-anak lain.
Menjelang magrib, ia baru pulang sambil ngos-ngosan.
Di rumah, ayahnya baru selesai mandi sepulang kerja. Rambutnya masih basah ketika Nayaka langsung mendekat sambil memeluk pinggangnya.
“Pak… sesok Nayaka sekolah.”
“Iyo.”
“Nek pinter oleh hadiah?”
Ayahnya tersenyum kecil.
“Oleh.”
“Hadiahe opo?”
“Yo ndelok sesok.”
Nayaka langsung tertawa kecil sambil mengikuti ayahnya ke ruang tengah.
Malam semakin larut.
Sekitar pukul sepuluh malam, ayahnya mulai memakai jaket lusuh dan mengambil senter kecil yang biasa dibawa untuk ronda di gudang mebel.
“Nayaka turu disik yo,” kata ayahnya sambil mengusap kepala Nayaka.
“Iyo Pak.”
Tidak ada tangisan malam itu.
Nayaka hanya memandangi ayahnya keluar rumah sambil membawa senter kecil dan suara sandal yang makin lama makin jauh.
Setelah itu, Nayaka kembali masuk kamar.
Radio kecil di dekat bantal masih menyala pelan memainkan lagu campursari malam. Sementara majalah Bobo edisi terbaru terbuka di sampingnya.
Di luar, suara jangkrik memenuhi malam desa yang sunyi.
Dan di dalam kamar kecil itu, Nayaka sulit tidur karena terlalu semangat membayangkan hari esok.
Tentang seragam baru.
Tentang sekolah.
Tentang teman-teman baru.
Keesokan paginya, udara masih dingin ketika ibunya membangunkan Nayaka lebih awal.
Anehnya, pagi itu Nayaka bangun tanpa rewel.
Ia langsung memakai seragam barunya dengan wajah berbinar meski kancing bajunya sempat salah pasang.
Ibunya sampai tertawa kecil melihatnya.
“Lha kok semangat tenan.”
“Nayaka arep sekolah.”
Setelah sarapan sederhana dengan telur dadar dan kecap, ibunya mulai menyiapkan sepeda ontel di depan rumah.
Keranjang kecil di bagian depan diisi bekal dan botol minum Nayaka.
“Ayo mangkat. Mengko ndak telat.”
Nayaka langsung naik ke boncengan belakang sambil memeluk pinggang ibunya erat.
Sepeda itu berjalan pelan melewati jalan desa yang masih basah oleh embun pagi.
Di kanan kiri masih hamparan sawah hijau. Beberapa petani mulai bekerja memakai caping. Angin pagi meniup pelan wajah Nayaka yang sejak tadi tidak berhenti melihat ke sana kemari dengan mata penuh penasaran.
“Nayaka seneng sekolah?”
“Seneng…”
“Ra wedi?”
Nayaka menggeleng kecil.
“Ibu neng kono kok. Ra usah wedi.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nayaka berangkat menuju sekolah ditemani ibunya, dengan hati kecil yang penuh semangat tentang dunia baru yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Next: Nayaka: Bakso Ning Jam Istirahat - Episode 2
