Live Jurnal pribadi tentang teknologi, perjalanan, dan refleksi sehari-hari. Sejak 2018
May 29, 2026

Nayaka: Bakso Ning Jam Istirahat - Episode 2



Pagi itu udara desa masih dingin ketika Nayaka sampai di depan sekolah bersama ibunya. Sepeda ontel tua yang dikayuh ibunya berhenti pelan di dekat gerbang TK yang mulai ramai oleh anak-anak dan orang tua. Keranjang depan sepeda berisi tas kecil, botol minum, dan kotak bekal milik Nayaka.

Nayaka turun perlahan sambil memegangi tali tasnya erat.

Di halaman sekolah sudah banyak anak seusianya. Ada yang menangis sambil memeluk ibunya, ada yang berlari ke sana kemari, ada juga yang masih cemberut karena dipaksa sekolah.

"Ibu muleh disik yo?" tanya Nayaka pelan.

Ibunya menggeleng kecil. "Ibu ngenteni nganti muleh."

Mata Nayaka langsung berbinar kecil.

Hari itu Nayaka beberapa kali menoleh ke luar kelas hanya untuk memastikan ibunya masih duduk di bangku depan sekolah bersama ibu-ibu lain. Kadang ibunya melambaikan tangan kecil, kadang hanya duduk membaca majalah Saji sambil sesekali melihat ke arah kelas Nayaka. Dan setiap melihat itu, Nayaka kembali tenang.

Hari-hari setelahnya mulai terasa menyenangkan. Nayaka mulai hafal suara bel sekolah, mulai berani berbicara dengan teman lain, dan mulai punya teman dekat bernama Indra.

Indra adalah anak kecil kurus berambut cepak yang duduk sebangku dengannya. Orangnya pendiam, bahkan lebih pendiam dari Nayaka. Kalau pelajaran menggambar, mereka sering saling meminjam crayon. Kalau jam istirahat, mereka duduk bersama sambil melihat anak-anak lain bermain kejar-kejaran.

Namun di kelas itu juga ada Hasan. Anak paling berisik dan paling jahil.

Suatu pagi, Nayaka diantar ayahnya memakai vespa biru tua. Suara vespanya terdengar nyaring melewati jalan desa yang masih sepi. Nayaka duduk di jok belakang sambil memeluk pinggang ayahnya erat-erat. Ia suka sekali diantar memakai vespa, meski kadang angin pagi membuat matanya berair.

Sesampainya di sekolah, ayahnya memberi beberapa uang receh kecil.

"Gawe jajan yo."

"Iyo Pak."

Hari itu jam istirahat terasa lebih ramai dari biasanya. Bel baru saja berbunyi ketika anak-anak langsung berlari menuju gerobak bakso di depan sekolah. Uap panas dari kuah bakso bercampur aroma bawang goreng memenuhi udara.

"Pak, bakso sewu," kata Nayaka semangat.

"Nek aku siomay wae," sahut Indra sambil duduk di bangku kayu kecil.

Mereka duduk berdampingan sambil meniup makanan yang masih panas. Wajah Nayaka terlihat senang sekali.

Namun belum sempat bakso itu dimakan, Hasan datang bersama dua anak lain sambil tertawa keras.

"Heh, minggir dikit."

Brak.

Bahunya sengaja menyenggol Nayaka sampai plastik baksonya jatuh ke tanah. Kuahnya tumpah. Bakso ciloknya menggelinding kena debu.

Beberapa anak langsung diam.

Hasan malah tertawa. "Lhooo… baksonya mlayu."

Bibir Nayaka mulai bergetar kecil. Matanya memerah menahan tangis. Ia menatap plastik kecil yang masih menyisakan satu cilok bercampur kecap di bawah tanpa mengatakan apa pun.

Indra langsung berdiri.

"Heh Hasan, ojo ngono toh."

Hasan masih tertawa kecil sebelum akhirnya pergi begitu saja.

Melihat Nayaka diam sambil mengusap mata cepat-cepat, Indra langsung mengeluarkan uang recehnya sendiri.

"Pak, cilok siji meneh."

Tak lama kemudian, seplastik kecil cilok hangat diletakkan di depan Nayaka.

"Wis, dipangan wae."

Nayaka menoleh pelan. "Ra usah… Mengko duwitemu entek."

"Ra popo."

Nayaka akhirnya tersenyum kecil.

Namun ternyata kejadian tadi dilihat Bu Tini dari ruang guru. Siang sebelum pulang sekolah, Hasan dipanggil ke depan kelas.

"Heh Hasan, sekolah ki gawe sinau. Dudu gawe jahil karo kancane."

Hasan langsung menunduk diam.

"Ora oleh ngguyu nek kancane susah. Paham?"

"Iyo Bu…"

Bu Tini lalu menyuruh Hasan meminta maaf. Hasan berjalan pelan mendekati Nayaka dan Indra.

"Maaf…"

Nayaka dan Indra saling melihat sebentar. Indra lebih dulu tersenyum kecil.

"Yo wis."

Nayaka ikut mengangguk pelan.

Sejak hari itu Hasan tidak lagi terlalu jahil pada mereka. Kadang ia malah ikut bermain bersama saat jam istirahat.

Bel pulang akhirnya berbunyi. Anak-anak langsung berhamburan keluar kelas sambil membawa tas kecil mereka. Suara sepatu berlarian bercampur tawa memenuhi halaman sekolah yang mulai panas terkena matahari siang.


Dari balik pagar sekolah, Nayaka melihat ibunya sudah datang menjemput memakai sepeda ontel seperti biasa. Ibunya berdiri di dekat pohon depan sekolah sambil memegangi setang sepeda.

"Nayakaaa… ayo muleh."

Wajah Nayaka langsung berubah cerah. Ia berlari kecil menghampiri ibunya sambil membawa banyak cerita di kepala. Tentang bakso yang jatuh. Tentang Hasan. Tentang Indra yang membelikannya cilok.

Sepanjang perjalanan pulang, Nayaka terus bercerita tanpa berhenti dari boncengan belakang sepeda. Ibunya hanya sesekali menanggapi sambil tertawa kecil.

"Oh ngono…"

"Nek Hasan jahil maneh ngomongo Bu Guru."

"Iyo Buk."

Angin siang berhembus pelan melewati jalan desa yang mulai ramai oleh anak-anak pulang sekolah. Dan di atas sepeda ontel tua itu, Nayaka kecil merasa bahwa sekolah ternyata tidak seseram yang ia bayangkan.

Next: Nayaka: Udan Sing Nggawa Kanca - Episode 3




Mardinawan

Ditulis oleh Mardinawan

Solution and Support • Web Developer

Siang sibuk dengan solusi, malam sibuk dengan kalimat. Suka hujan kecil, buku usang, dan kota yang tidak terburu-buru.