Alhamdulillah, operasi yang dijalani ibu Nayaka berjalan lancar.
Beberapa jam setelah menunggu dengan penuh kecemasan di rumah sakit, akhirnya kabar baik datang. Seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat. Ayah Nayaka yang sejak pagi terlihat tegang akhirnya bisa tersenyum lega. Kakek dan nenek pun mengucap syukur berkali-kali.
Beberapa hari kemudian, Nayaka diperbolehkan melihat adiknya lebih dekat. Bayi kecil itu dibedong rapi, wajahnya masih kemerahan, dan sebagian besar waktunya dihabiskan untuk tidur.
"Jenenge Kaniska," kata ibunya pelan sambil tersenyum.
Nayaka mengangguk pelan. Ia belum benar-benar mengerti arti nama itu, tetapi ia tahu bahwa sejak hari itu dirinya bukan lagi anak tunggal.
Karena kondisi ibunya yang harus menjalani pemulihan setelah operasi sesar, mereka masih tinggal di rumah sakit selama beberapa hari. Pada masa itu, pasien operasi sesar biasanya dirawat lebih lama daripada sekarang. Hampir tujuh hari ibu Nayaka berada di rumah sakit sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.
Suatu siang saat Nayaka duduk di samping ranjang rumah sakit, ibunya bercerita tentang masa ketika ia lahir.
"Mbiyen pas Nayaka lair, ibu mung neng puskesmas."
"Puskesmas?" tanya Nayaka penasaran.
Ibunya mengangguk.
"Iyo. Lairmu lancar. Ora nganti neng rumah sakit."
"Lha Kaniska kok neng rumah sakit?"
Ibunya tersenyum kecil.
"Amarga ibu sempat pendarahan."
Nayaka terdiam. Meskipun belum memahami seluruhnya, ia mulai mengerti bahwa adiknya datang ke dunia melalui perjuangan yang tidak mudah.
Beberapa hari kemudian, ibu dan Kaniska akhirnya pulang ke rumah. Rumah yang biasanya tenang kini memiliki suara baru. Tangisan bayi kadang terdengar saat subuh, kadang saat tengah malam ketika semua orang sedang tidur. Awalnya Nayaka merasa aneh mendengar suara itu hampir setiap hari. Namun lama-kelamaan ia mulai terbiasa.
Ia sering berdiri di dekat tempat tidur hanya untuk melihat adiknya yang sedang tertidur pulas di samping ibu. Kadang ia memperhatikan tangan kecil Kaniska yang menggenggam udara. Kadang ia tertawa sendiri saat melihat adiknya menguap. Tanpa disadari, rasa sayang mulai tumbuh di dalam dirinya.
Di saat yang sama, hari-hari terakhir Nayaka di TK juga semakin dekat. Latihan pentas seni semakin sering dilakukan. Bu Tini dan para guru tampak sibuk mempersiapkan acara penutupan tahun ajaran. Anak-anak yang dulu datang ke sekolah dengan menangis kini mulai bersiap meninggalkan TK untuk melanjutkan pendidikan ke SD.
Nayaka termasuk yang paling serius saat latihan. Ia berusaha menghafalkan lagu dan gerakan sebaik mungkin. Setiap pulang sekolah, ia masih sempat berlatih di rumah meski kadang harus berhenti karena Kaniska menangis.
"Nayaka, suarane luwih banter meneh yo," kata Bu Tini suatu pagi.
"Iyo Bu."
Meski masih pemalu, Nayaka berusaha mengikuti arahan gurunya dengan baik.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Halaman sekolah dihias dengan balon warna-warni dan berbagai hiasan buatan para guru. Orang tua murid mulai berdatangan sejak pagi. Anak-anak mengenakan pakaian terbaik mereka dan duduk rapi menunggu giliran tampil.
Nayaka melihat ayah dan ibunya datang. Ibunya menggendong Kaniska yang masih sangat kecil. Melihat keluarganya hadir membuat Nayaka semakin bersemangat.
Ketika tiba gilirannya tampil di atas panggung, ia berusaha memberikan yang terbaik. Meski masih sedikit gugup, ia berhasil menyelesaikan penampilannya dengan baik. Tepuk tangan dari para orang tua memenuhi halaman sekolah.
Acara demi acara berlangsung hingga siang hari. Anak-anak bernyanyi, menari, membaca puisi, dan menerima kenang-kenangan dari sekolah. Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.
Sampai akhirnya tibalah acara terakhir: foto bersama.
Semua murid dikumpulkan di depan panggung sederhana yang telah dihias balon warna-warni dan kertas lipat buatan para guru. Anak-anak berbaris sesuai arahan Bu Tini. Sebagian berdiri di belakang, sebagian lagi duduk di barisan depan.
Nayaka duduk berdampingan dengan Indra. Keduanya tampak sedikit kelelahan setelah mengikuti rangkaian acara sejak pagi, tetapi wajah mereka tetap terlihat ceria.
Sambil menunggu fotografer menyiapkan kamera, mereka mengobrol seperti biasa.
"Nayak."
"Hm?"
"Sesok liburan arep neng ngendi?"
"Paling nonton Bekakak Saparan."
Mata Indra langsung membesar.
"Sing ana ogoh-ogoh kuwi?"
"Iyo."
"Aku pengin ndelok."
"Njaluk bapakmu ngancani."
Indra langsung menghela napas panjang.
"Bapakku nek Minggu turu wae."
Nayaka tertawa kecil.
"Lha bapakmu kerja terus."
"Makane pas libur turune kaya kebo."
Keduanya tertawa.
Tak jauh dari mereka, Hasan yang mendengar percakapan itu ikut menoleh.
"Bapakku yo ngono."
Indra langsung menyahut cepat.
"Bapakmu malah ngorok nganti njedhul tikus saka plafon."
Beberapa anak yang mendengar langsung tertawa.
Hasan pura-pura kesal.
"Heh, ora ngono."
"Lha wong aku tau dolan neng omahmu."
"Ndelok tikuse?"
"Ndelok bapakmu ngorok."
Tawa anak-anak semakin pecah. Bu Tini yang melihat keramaian kecil itu hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Heh, sing arep foto ojo rame dhewe."
"Iyo Buuu..." jawab mereka hampir bersamaan.
Suasana kembali tenang. Beberapa saat kemudian, Indra kembali berbisik.
"Nayak."
"Hm?"
"Nek wis SD mengko awake dewe tetep kanca to?"
Nayaka menoleh sebentar.
"Tetep lah."
"Janji?"
"Janji."
Indra tersenyum puas.
Saat itu fotografer mulai berdiri di depan mereka.
"Sing siap nggih..."
Semua anak langsung duduk rapi.
"Siji... loro... telu..."
Klik.
Suara kamera terdengar. Tak ada yang tahu bahwa foto sederhana itu kelak akan menjadi salah satu kenangan paling berharga dari masa kecil mereka.
Setelah acara selesai, Nayaka pulang bersama keluarganya. Sesampainya di rumah, suasana yang berbeda langsung menyambutnya. Dari dalam kamar terdengar suara tangisan kecil. Kaniska terbangun.
Nayaka meletakkan tasnya lalu berjalan mendekat. Adiknya sedang digendong ibu sambil terus menangis kecil.
"Kaniska lapar iki," kata ibunya sambil tersenyum.
Nayaka ikut tersenyum. Ia duduk di samping tempat tidur dan memperhatikan wajah adiknya yang mungil. Tangisan yang dulu terdengar asing kini mulai terasa akrab. Kadang bahkan ia merasa rumah akan terlalu sepi jika tidak mendengarnya.
Menjelang sore, Kaniska akhirnya tertidur di samping ibunya. Angin masuk melalui jendela kamar membawa aroma tanah dan suara anak-anak yang masih bermain di luar. Nayaka duduk di dekat tempat tidur.
Ibunya menatapnya sebentar lalu tersenyum.
"Le."
"Iyo Buk."
"Sek bentar maneh kowe mlebu SD."
Nayaka mengangguk pelan. Perasaan itu tiba-tiba terasa nyata. Ia tidak akan lagi menjadi murid TK. Tidak akan lagi belajar di kelas Bu Tini. Tidak akan lagi duduk sebangku dengan Indra setiap hari.
Ibunya mengusap kepalanya lembut.
"Sing sregep sinau yo."
"Iyo Buk."
"SD luwih gedhe. Kowe kudu siap."
"Iyo."
"Nek wis dadi kakang, kudu isa menehi conto sing apik kanggo adikmu."
Nayaka menoleh ke arah Kaniska yang masih tertidur lelap. Dada kecilnya naik turun dengan tenang.
Untuk pertama kalinya, Nayaka benar-benar merasa dirinya mulai tumbuh. Bukan hanya karena ia akan masuk SD, tetapi juga karena kini ada seorang adik yang akan melihat dan menirunya kelak.
Di luar rumah, matahari mulai turun perlahan di balik pepohonan desa. Hari itu, Nayaka menyadari bahwa banyak hal telah berubah dalam waktu yang singkat. Ia kini memiliki seorang adik. Ia telah menyelesaikan masa TK. Dan sebentar lagi, sebuah perjalanan baru akan dimulai.
Sebuah pungkasan.
Sekaligus sebuah wiwitan. 🌿
