Live Jurnal pribadi tentang teknologi, perjalanan, dan refleksi sehari-hari. Sejak 2018
June 05, 2026

Nayaka: Lairing Cahya Cilik - Episode 4




Waktu berjalan begitu cepat bagi Nayaka. Rasanya baru kemarin ia menangis saat pertama kali masuk TK dan tidak mau jauh dari ibunya. Kini, dua tahun sudah berlalu. Seragam yang dulu terasa kebesaran kini mulai pas di badan, dan teman-teman yang dulu masih asing kini sudah menjadi bagian dari hari-harinya.

Di sekolah, suasana sedang jauh lebih ramai daripada biasanya. Beberapa minggu lagi akan diadakan pentas seni sekaligus acara perpisahan untuk murid-murid yang akan lulus dan melanjutkan ke bangku SD. Setiap pagi halaman sekolah dipenuhi suara anak-anak yang berlatih menyanyi, menari, dan membaca puisi. Bu Tini terlihat lebih sibuk dari biasanya. Bahkan Hasan yang biasanya sulit diam pun mulai serius saat latihan.

Nayaka mendapat bagian menyanyikan lagu bersama teman-teman sekelasnya. Meski pemalu, ia diam-diam berlatih di rumah. Kadang di ruang tamu, kadang di teras, dan kadang sambil ditemani ibunya yang duduk mengipas badan karena cuaca yang semakin panas.

Perut ibunya kini terlihat semakin besar. Sudah beberapa bulan terakhir Nayaka melihat ibunya berjalan lebih pelan dari biasanya. Jika dulu ibunya masih sering menyapu halaman, mencuci pakaian, atau pergi ke warung sendiri, kini sebagian pekerjaan itu mulai dibantu oleh ayahnya.

Ayah Nayaka memang tidak banyak bicara. Namun akhir-akhir ini ia terlihat lebih sering memperhatikan keadaan ibunya. Setiap hendak berangkat kerja ke puskesmas, ia selalu memastikan semuanya baik-baik saja.

“Buk, nek krasa apa-apa langsung ngomong yo.”

“Iyo.”

“Nek perlu menyang bidan yo langsung.”

Ibunya hanya tersenyum kecil mendengar itu.

Nayaka yang melihat semuanya belum benar-benar mengerti. Yang ia tahu, sebentar lagi ia akan punya adik.

Malam itu berjalan seperti malam-malam biasanya. Setelah makan malam, Nayaka duduk di lantai ruang tengah membaca majalah Bobo yang beberapa hari lalu dibelikan ibunya. Dari dapur terdengar suara radio yang memutar lagu campursari pelan. Sesekali ibunya menanyakan tugas sekolah, sementara ayahnya duduk di kursi bambu sambil menikmati teh hangat.

Tak lama kemudian, kantuk mulai datang. Nayaka masuk ke kamar dan tidur lebih awal. Di luar rumah, satu per satu lampu tetangga mulai padam. Desa kembali sunyi seperti biasanya.

Namun malam itu ternyata berbeda.

Menjelang tengah malam, ibunya mengalami pendarahan. Ayah yang panik segera meminta bantuan kakek dan nenek. Dalam keadaan tergesa-gesa, ibunya dibawa menuju rumah sakit besar di kota untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Semua terjadi begitu cepat. Terlalu cepat untuk dipahami oleh Nayaka yang masih tertidur pulas.

Keesokan paginya, Nayaka terbangun karena cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar. Ia mengucek mata lalu melihat ke sekeliling ruangan.

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Kamar itu terlalu sepi.

Biasanya ayah atau ibunya sudah sibuk beraktivitas sejak pagi. Namun hari itu tidak ada siapa-siapa.

Saat duduk di atas tempat tidur, matanya menangkap bercak merah di seprai. Tidak banyak, tetapi cukup membuatnya bingung.

Nayaka turun dari kasur dan berjalan menuju ruang depan.

Motor ayah tidak ada di tempat biasanya.

Di ruang tamu sudah ada kakek dan nenek yang sedang duduk menunggunya.

“Nek, Bapak karo Ibu neng ngendi?” tanya Nayaka.

Nenek menatapnya pelan sebelum menjawab.

“Ibumu neng rumah sakit, Le.”

Nayaka terdiam.

“Rumah sakit?”

“Iyo. Adikmu arep lair.”

Meski belum sepenuhnya memahami keadaan, Nayaka mulai merasakan ada sesuatu yang serius sedang terjadi. Hari itu ia tidak masuk sekolah. Bu Tini bahkan sudah diberi kabar bahwa Nayaka izin karena ibunya sedang dirawat.

Menjelang siang, kakek mengajak Nayaka pergi ke kota untuk menjenguk ibunya. Karena ayah masih berada di rumah sakit menemani ibu, hari itu Nayaka berangkat bersama kakek dan nenek menggunakan Bus Cemara Tunggal yang biasa melintas di jalan raya dekat pasar kecamatan.

Bus yang mereka tunggu akhirnya datang dengan suara mesin yang terdengar dari kejauhan. Kakek menggandeng tangan Nayaka saat naik ke dalam bus, sementara nenek membawa tas berisi beberapa keperluan untuk ibu. Mereka duduk di bangku dekat jendela. Biasanya Nayaka akan senang jika diajak naik bus, melihat sawah, pasar, dan kendaraan yang berlalu-lalang di luar kaca. Namun hari itu ia lebih banyak diam.

Sepanjang perjalanan, pikirannya terus tertuju pada ibunya. Ia membayangkan wajah ibunya yang semalam masih menemaninya belajar lagu untuk pentas seni. Sesekali kakek mengusap kepalanya dan berkata bahwa ibunya akan baik-baik saja. Nayaka hanya mengangguk pelan sambil memandangi jalan yang semakin ramai saat bus memasuki kota.

Setelah hampir satu jam perjalanan, Bus Cemara Tunggal akhirnya tiba di terminal kota. Dari sana mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat. Semakin dekat ke rumah sakit, perasaan Nayaka semakin campur aduk. Ia tidak tahu apa yang akan dilihatnya, tetapi ia tahu bahwa sesuatu yang penting sedang terjadi pada keluarganya.

Sesampainya di rumah sakit, Nayaka langsung menggenggam tangan nenek erat-erat. Bau obat-obatan, lorong panjang, suara langkah perawat, dan banyaknya orang asing membuatnya merasa gugup.

Di depan ruang perawatan, ayahnya terlihat duduk sendirian. Wajahnya tampak lelah karena semalaman tidak tidur. Namun ketika melihat Nayaka datang, ia langsung berdiri dan tersenyum.

“Nayaka.”

“Pak... Ibu piye?”

Ayah mengusap kepala Nayaka perlahan.

“Ibumu kuat.”

Tak lama kemudian mereka diperbolehkan masuk untuk menemui ibunya.

Di atas ranjang rumah sakit, ibunya berbaring dengan wajah pucat. Namun ketika melihat Nayaka masuk, senyum kecil tetap muncul di wajahnya.

“Nayaka...”

“Iyo Buk.”

Nayaka berjalan mendekat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ibunya tampak begitu lemah.

Ibunya menggenggam tangan kecil Nayaka dengan erat.

“Le...”

“Iyo Buk.”

“Tulung doakno Ibu yo.”

Nayaka menatap wajah ibunya tanpa berkedip.

“Ben operasine lancar.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Nayaka kecil, rasanya seperti sesuatu yang sangat besar.

Ia mengangguk pelan.

“Iyo Buk.”

Untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Takut kehilangan orang yang setiap hari membangunkannya, memarahinya ketika nakal, mengingatkannya belajar, dan selalu menunggu kepulangannya dari sekolah.

Menjelang sore, ibunya mulai dipersiapkan untuk menjalani operasi. Nayaka duduk di samping ayahnya di lorong rumah sakit sambil memandangi pintu ruang operasi yang tertutup rapat.

Di dalam hati kecilnya, ia terus mengulang doa yang diajarkan ibunya. Mungkin belum sempurna. Mungkin masih terbata-bata. Namun sore itu, untuk pertama kalinya Nayaka berdoa dengan sungguh-sungguh bukan untuk dirinya sendiri.

Ia berdoa untuk ibunya.

Dan di balik pintu ruang operasi itu, seorang adik kecil sedang bersiap hadir ke dunia, membawa cahaya baru bagi keluarga mereka.

Mardinawan

Ditulis oleh Mardinawan

Solution and Support • Web Developer

Siang sibuk dengan solusi, malam sibuk dengan kalimat. Suka hujan kecil, buku usang, dan kota yang tidak terburu-buru.