Live Jurnal pribadi tentang teknologi, perjalanan, dan refleksi sehari-hari. Sejak 2018
May 29, 2026

Nayaka: Udan Sing Nggawa Kanca - Episode 3




Siang itu setelah pulang sekolah, matahari belum sepenuhnya tinggi ketika Nayaka sampai di rumah. Halaman masih hangat, dan suara ayam sesekali terdengar dari belakang rumah.

Belum lama ia melepas sepatu, dua anak sudah berdiri di depan pagar.

Bambang dan Bagus.

Bambang datang dengan wajah tenang seperti biasa, membawa aura anak yang rapi dan penurut, meski kadang suka iseng kecil tanpa niat jahat. Sedangkan Bagus selalu lebih dulu tersenyum, anak yang mudah akrab dengan siapa saja, dan sering membawa suasana jadi lebih ramai.

“Dolanan?” tanya Bagus.

Nayaka mengangguk tanpa banyak pikir.

Tak lama mereka bertiga sudah menuju tanah kosong di dekat rumah Nayaka. Tempat itu sudah seperti dunia kecil mereka sendiri, tanah lapang dengan sedikit rumput liar, batu kecil, dan tawa anak-anak desa yang selalu bergantian datang.

Di sana, kelereng menjadi permainan pertama hari itu. Mereka duduk melingkar, saling menunduk, fokus pada lintasan kecil di tanah.

“Yen kena, njupuk loro ya,” kata Bambang sambil tersenyum kecil.

“Yo ojo curang,” sahut Nayaka pelan.

Tawa kecil muncul di antara mereka.

Tak lama kemudian, anak-anak lain mulai berdatangan. Didi, Tio, Abnu, Trian, Anto, dan Monok. Suasana langsung berubah jadi lebih ramai, lebih hidup.

Seseorang mengusulkan permainan baru.

“Sepak sekong wae!”

Semua langsung setuju.

Sepak sekong adalah permainan favorit mereka, campuran antara kejar-kejaran, sembunyi, dan bola plastik yang jadi kunci permainan. Yang jaga harus menangkap bola dan mengembalikannya, sementara yang lain bersembunyi setelah menendang bola.

Hari itu, giliran Nayaka yang jaga.

Monok berdiri di dekat bola, lalu dengan cepat menendangnya jauh ke arah tanah lapang.

“Wes! Wes mlaku!” teriak seseorang.

Nayaka langsung berlari mengambil bola, mengembalikannya ke titik awal, lalu mulai menghitung dan menutup mata seperti aturan permainan mereka.

Satu per satu, anak-anak berlari mencari tempat sembunyi.

Suasana berubah jadi tegang tapi menyenangkan.

Nayaka mulai mencari.

Satu per satu ia menemukan teman-temannya. Didi tertangkap lebih dulu di balik pohon kecil. Tio menyusul di balik tumpukan batu. Anto dan Trian pun ditemukan tak lama kemudian.

Tinggal satu.

Bambang.

Nayaka berjalan lebih pelan, matanya menyapu tanah kosong itu dengan hati-hati. Sampai akhirnya ia melihat gerakan kecil di balik semak.

“Ketemu…” gumamnya pelan.

Permainan selesai.

Kini giliran Didi yang jaga. Bola ditendang lagi, kali ini jauh sekali, membuat Didi berlari agak kewalahan sambil tertawa.

“Adoh tenan iki!”

Semua langsung berlarian mencari tempat sembunyi lagi.

Nayaka ikut berlari. Napasnya mulai sedikit terengah, tapi tawanya tidak berhenti.

Di dekat tanah kosong itu, ada bangunan rumah yang belum selesai. Tiang-tiang semen masih terlihat, dan lantai pondasi belum sepenuhnya rata. Di sebelahnya ada parit kecil yang memisahkan tanah lapang dengan bangunan itu.

Gerimis mulai turun pelan.

Awalnya hanya titik kecil di tanah, lalu perlahan semakin banyak.

“Udan…” kata Bagus pelan.

Tapi permainan belum selesai.

Nayaka melihat ke arah bangunan itu.

Ia berpikir sebentar.

Kalau sembunyi di sana, pasti sulit ditemukan.

Ia berlari kecil menuju bangunan itu, lalu berdiri di tepi parit. Air mulai mengalir tipis di bawahnya.

Tanpa banyak ragu, ia mencoba melompat.

Namun tanah yang basah membuat kakinya terpeleset.

“Ahhh !”

Kakinya menghantam sisi pondasi parit. Rasa sakit langsung menjalar.

Nayaka terjatuh ke samping, tapi untungnya tidak sampai jatuh ke parit.

Ia memegang kakinya sambil meringis. Air mata langsung keluar tanpa bisa ditahan.

“Nayaka!”

Suara teman-temannya langsung panik.

Satu per satu mereka berlari menghampiri.

Tak lama, seorang bapak pekerja bangunan yang melihat kejadian itu ikut datang dan membantu mengangkat Nayaka pelan.

“Pelan-pelan, nak…”

Teman-temannya ikut berjalan di belakang, wajah mereka berubah cemas, permainan yang tadi ramai kini mendadak sunyi.

Gerimis berubah jadi hujan pelan.

Langit desa menjadi abu-abu, dan suara tawa berganti jadi langkah kaki yang pelan.

Di rumah, ibu Nayaka langsung panik saat melihat anaknya dibopong masuk.

“Nayaka!”

Luka di lututnya dibersihkan perlahan. Ia masih menangis kecil, tapi mulai tenang saat ibunya memegang tangannya.

“Ora popo… wis, sabar yo…”

Nayaka mengangguk pelan.

Di luar, hujan akhirnya turun lebih deras.

Dan sore itu, permainan anak-anak desa benar-benar berhenti, menyisakan satu hal yang mereka semua pelajari tanpa sadar: bahwa tawa dan luka kadang datang di hari yang sama.

Mardinawan

Ditulis oleh Mardinawan

Solution and Support • Web Developer

Siang sibuk dengan solusi, malam sibuk dengan kalimat. Suka hujan kecil, buku usang, dan kota yang tidak terburu-buru.