Siang itu setelah pulang sekolah, matahari belum sepenuhnya tinggi ketika
Nayaka sampai di rumah. Halaman masih hangat, dan suara ayam sesekali terdengar
dari belakang rumah.
Belum lama ia melepas sepatu, dua anak sudah
berdiri di depan pagar.
Bambang dan Bagus.
Bambang datang dengan wajah tenang seperti
biasa, membawa aura anak yang rapi dan penurut, meski kadang suka iseng kecil
tanpa niat jahat. Sedangkan Bagus selalu lebih dulu tersenyum, anak yang mudah
akrab dengan siapa saja, dan sering membawa suasana jadi lebih ramai.
“Dolanan?” tanya Bagus.
Nayaka mengangguk tanpa banyak pikir.
Tak lama mereka bertiga sudah menuju tanah kosong di dekat rumah Nayaka.
Tempat itu sudah seperti dunia kecil mereka sendiri, tanah lapang dengan sedikit
rumput liar, batu kecil, dan tawa anak-anak desa yang selalu bergantian datang.
Di sana, kelereng menjadi permainan pertama
hari itu. Mereka duduk melingkar, saling menunduk, fokus pada lintasan kecil di
tanah.
“Yen kena, njupuk loro ya,” kata Bambang
sambil tersenyum kecil.
“Yo ojo curang,” sahut Nayaka pelan.
Tawa kecil muncul di antara mereka.
Tak lama kemudian, anak-anak lain mulai
berdatangan. Didi, Tio, Abnu, Trian, Anto, dan Monok. Suasana langsung berubah
jadi lebih ramai, lebih hidup.
Seseorang mengusulkan permainan baru.
“Sepak sekong wae!”
Semua langsung setuju.
Sepak sekong adalah permainan favorit
mereka, campuran antara kejar-kejaran, sembunyi, dan bola plastik yang jadi
kunci permainan. Yang jaga harus menangkap bola dan mengembalikannya, sementara
yang lain bersembunyi setelah menendang bola.
Hari itu, giliran Nayaka yang jaga.
Monok berdiri di dekat bola, lalu dengan cepat
menendangnya jauh ke arah tanah lapang.
“Wes! Wes mlaku!” teriak seseorang.
Nayaka langsung berlari mengambil bola,
mengembalikannya ke titik awal, lalu mulai menghitung dan menutup mata seperti
aturan permainan mereka.
Satu per satu, anak-anak berlari mencari
tempat sembunyi.
Suasana berubah jadi tegang tapi menyenangkan.
Nayaka mulai mencari.
Satu per satu ia menemukan teman-temannya.
Didi tertangkap lebih dulu di balik pohon kecil. Tio menyusul di balik tumpukan
batu. Anto dan Trian pun ditemukan tak lama kemudian.
Tinggal satu.
Bambang.
Nayaka berjalan lebih pelan, matanya menyapu
tanah kosong itu dengan hati-hati. Sampai akhirnya ia melihat gerakan kecil di
balik semak.
“Ketemu…” gumamnya pelan.
Permainan selesai.
Kini giliran Didi yang jaga. Bola ditendang
lagi, kali ini jauh sekali, membuat Didi berlari agak kewalahan sambil tertawa.
“Adoh tenan iki!”
Semua langsung berlarian mencari tempat
sembunyi lagi.
Nayaka ikut berlari. Napasnya mulai sedikit
terengah, tapi tawanya tidak berhenti.
Di dekat tanah kosong itu, ada bangunan rumah
yang belum selesai. Tiang-tiang semen masih terlihat, dan lantai pondasi belum
sepenuhnya rata. Di sebelahnya ada parit kecil yang memisahkan tanah lapang
dengan bangunan itu.
Gerimis mulai turun pelan.
Awalnya hanya titik kecil di tanah, lalu
perlahan semakin banyak.
“Udan…” kata Bagus pelan.
Tapi permainan belum selesai.
Nayaka melihat ke arah bangunan itu.
Ia berpikir sebentar.
Kalau sembunyi di sana, pasti sulit ditemukan.
Ia berlari kecil menuju bangunan itu, lalu
berdiri di tepi parit. Air mulai mengalir tipis di bawahnya.
Tanpa banyak ragu, ia mencoba melompat.
Namun tanah yang basah membuat kakinya
terpeleset.
“Ahhh !”
Kakinya menghantam sisi pondasi parit. Rasa
sakit langsung menjalar.
Nayaka terjatuh ke samping, tapi untungnya
tidak sampai jatuh ke parit.
Ia memegang kakinya sambil meringis. Air mata
langsung keluar tanpa bisa ditahan.
“Nayaka!”
Suara teman-temannya langsung panik.
Satu per satu mereka berlari menghampiri.
Tak lama, seorang bapak pekerja bangunan yang
melihat kejadian itu ikut datang dan membantu mengangkat Nayaka pelan.
“Pelan-pelan, nak…”
Teman-temannya ikut berjalan di belakang,
wajah mereka berubah cemas, permainan yang tadi ramai kini mendadak sunyi.
Gerimis berubah jadi hujan pelan.
Langit desa menjadi abu-abu, dan suara tawa
berganti jadi langkah kaki yang pelan.
Di rumah, ibu Nayaka langsung panik saat
melihat anaknya dibopong masuk.
“Nayaka!”
Luka di lututnya dibersihkan perlahan. Ia
masih menangis kecil, tapi mulai tenang saat ibunya memegang tangannya.
“Ora popo… wis, sabar yo…”
Nayaka mengangguk pelan.
Di luar, hujan akhirnya turun lebih deras.
Dan
sore itu, permainan anak-anak desa benar-benar berhenti, menyisakan satu hal
yang mereka semua pelajari tanpa sadar: bahwa tawa dan luka kadang datang di
hari yang sama.